Pria Berpangkat Kolonel Tak Malu Jualan Mie Ayam, Prajurit Lain Hormat Grak

Mie ayam adalah salah satu masakan Indonesia yang legendaris. Banyak penjual yang menggembar-gemborkan.

Melansir Merdeka, Tapi apa jadinya jika ternyata penjual mie ayam berpangkat militer? Sekarang, dia bahkan mencapai pangkat 'Kolonel'.

Tertarik dengan sosoknya? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini, dikutip dari kanal YouTube Jambul Ijo, Kamis (10/3).

Pakde Jalal, panggilan akrab dari para prajurit yang bermarkas di kawasan Tanggul, Jember, Jawa Timur kepada seorang penjual mie ayam. Bersama dengan gerobak mie ayam miliknya, Pakde Jalal dengan setia menunggu para pelanggannya.

"Mana jatah provos? Jatah provos," ungkap salah satu prajurit saat menghampiri.

"Ada, gratis," ungkapnya.

"Jatah preman 3, oke bikinkan jatah preman 3," terang salah satu prajurit kembali.

Saking dekatnya dengan para pelanggan yang merupakan prajurit, Jalal sesekali hanya tersenyum. Ia menyunggingkan senyuman saat sejumlah prajurit melontarkan berbagai candaan.

Rupanya, Jalal merupakan sosok penjual mie ayam yang telah memasuki usia lanjut. Disebutnya, kini Jalal tengah berusia 60 tahun dengan nada menggelitik.

"Sampeyan umur berapa sekarang?" tanya salah satu prajurit.

"Masih 60 (tahun)," ujarnya.

"60?" tanyanya kembali.

"60 tapi sudah punya cucu," canda prajurit lainnya.

Berjualan mie ayam dengan gerobak sederhana tak dilakoni Jalal dalam waktu yang singkat. Rupanya, ia telah berjualan selama 22 tahun.

"Sudah berapa tahun bapak jualan di sini?" tanya salah satu prajurit.

"22 tahun," ujarnya.

Di sela-sela perbincangan, ada salah satu prajurit yang menanggapi dengan candaan. Selama 22 tahun tersebut, Jalal setuju jika dirinya disebut sebagai seorang prajurit dengan pangkat kolonel jika memasuki pendidikan militer.

"22 tahun? Kalau di sini 22 tahun berarti sampeyan sudah?" tanyanya.

"Kolonel," jawab Jalal.

Jawaban Jalal pun menuai riuh tawa dari para prajurit. Saking akrabnya, salah satu dari mereka pun melipat tangan seraya melakukan gerakan hormat.

"Wuidih, berarti saya siap grak, Kolonel!" katanya.

Jalal pun cukup menanggapi hal tersebut dengan santai dan tawa. Ia tetap menyibukkan diri di depan gerobak, mempersiapkan hidangan bagi para pelanggan akrabnya kala itu.

"Berarti nanti sampeyan lewat gerbang sana, saya hormat ya," ujar salah satu prajurit lainnya.

"Oke siap," singkat Jalal seraya tersenyum.