Nenek Buta Hidup Sendiri di Atas Saluran Air Grobogan Sudah Siapkan Nisan Sendiri

Surati (68), seorang nenek buta, tinggal di sebuah gubuk kecil di atas saluran air di Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Di dalam kabinnya, sebuah batu nisan kayu berwarna biru tergeletak di atas sofa.


"Itu nisan untuk saya jika meninggal kelak. Pasrah dan nerima kondisi saat ini. Dulu rumah terbakar, uang tabungan dan surat berharga ikut terbakar. Tiga anak juga hidup apa adanya, jadi saya hanya bisa pasrah," ujar Surati saat ditemui detikJateng di gubuknya, Kamis (24/2/2022).

Melansir detikcom, di dalam gubuk itu Surati hanya tinggal sendirian. Sebenarnya dia memiliki tiga anak, tapi semuanya tinggal di luar kota. Surati memilih tinggal sendiri lantaran tidak mau membebani anak-anaknya yang juga sama-sama hidup serba kekurangan.

"Suami pergi, rumah, tabungan dan barang berharga terbakar. Meski hidup apa adanya, yang penting anak-anak lancar rezekinya. Karena saya sudah punya dua cucu belum lama ini. Jadi biar dua anak saya fokus ke keluarga dan saya sama anak bungsu," ungkapnya dengan meluapkan kegembiraan.

Surati bercerita, sehari-hari dia memang tinggal sendiri. Anak bungsu yang bekerja di Kota Semarang, pulang setiap dua pekan sekali dan ikut tidur seatap di gubuk reot ini. Pernah anak-anaknya menyewa rumah kos, tapi itu tidak berlangsung lama.

"Kalau kos saya nggak bisa beli makan dan lapar. Kalau hidup di gubuk ini ada tetangga yang baik, membantu, dan peduli. Jadi syukur meski hidup apa adanya," papar Surati.

Bantuan bukan menjadi harapan utama. Bahkan mencari tahu cara meminta bantuan ke pemerintah pun tak dia ketahui. Dengan kekurangan fisik selama 5 tahun lebih ini, Surati mengaku menerima bantuan berupa BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai). Beras, telur dan perlengkapan sembako ia terima dan ia syukuri. Namun, kekurangan fisik yakni lansia, buta dan sudah lemas, membuatnya tak bisa memasak.

"Masak sekarang sudah nggak bisa. Bantuan pemerintah beras dan pangan lain sudah meringankan beban. Terlebih banyak tetangga dan orang melintas memberi. Baik makanan, minuman atau bahkan uang. Saya tidak meminta dan saya juga tidak mau jadi pengemis. Jadi pasrah sama tiga anak terutama anak bungsu saya," kata dia.

Untuk diketahui, gubuk kecil Surati itu hanya berdinding kayu dan terpal. Atapnya terbuat dari seng. Bangunan itu berdiri di atas saluran drainase yang ada di Desa Gubug, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.

Surati hidup dalam tumpukan barang-barang yang ada di dalam gubuk yang luasnya sekitar 4 meter persegi itu.

Tidak banyak aktivitas yang dia lakukan di dalam gubuk, kecuali tiduran. Nenek itu hampir tidak pernah keluar dari tempat itu. Selama 5 tahun terakhir, kedua matanya buta akibat digerogoti penyakit.

Sementara itu Camat Gubug, Bambang Supriyadi, mengaku tidak mengetahui adanya nenek Surati ini. Padahal, jarak rumah nenek dan Kantor Kecamatan Gubug tak lebih dari 1 km.

"Saya belum dengar kisah nenek Surati. Nanti saya cari tahu semoga pemerintah bisa memberikan bantuan," ujar Bambang singkat sembari berlalu pergi saat ditemui di Kantor Kecamatan Gubug.