Kenapa Poligami Hanya Khusus untuk Laki-laki Saja?

Janda dalam Islam adalah kegiatan yang didedikasikan untuk laki-laki. Mengapa poligami hanya berlaku untuk laki-laki, sedangkan poligami melarang perempuan?

Diberitakan Republika.com dari Elbalad, Jumat (5 November 2021), mungkin pertanyaan mengapa Allah SWT mengatur poligami untuk pria tetapi tidak untuk wanita, dan hanya membolehkan poligami untuk pria dan bukan wanita, sering muncul di benak banyak wanita.

Bahkan beberapa orang non-Muslim kerap menuduh Islam melalui masalah ini dengan dalih tidak adil antara pria dengan wanita ketika poligami itu dibolehkan hanya untuk laki-laki.

Mengapa poligami hanya untuk laki-laki sedangkan naluri yang memotivasi seorang wanita adalah kecemburuan, dan penolakannya terhadap wanita lain untuk berbagi suaminya dengannya justru dibolehkan dalam syariat?

Para ulama menyebutkan bahwa Allah SWT memberikan kelebihan bagi hamba-Nya satu sama lain. Allah juga memerintahkan agar hamba-Nya tidak mengharapkan apa yang Tuhan lebih suka satu sama lain.

Laki-laki memiliki bagian dan wanita memiliki bagian lain. Allah SWT telah mengamanatkan laki-laki untuk menafkahkan perempuan, merawatnya, dan bersikap baik padanya, dan menjadikannya mahar, nafkah, dan mahar dan tunjangan yang harus dipenuhi. Allah berfirman dalam Alquran surat An Nisa ayat 32: 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Wa laa tatamanaw maa faddhalallahu bihi ba’dhakum ala ba’dhin lirrijaali nashibun mimma-ktasabuu wa linnisaa-I nashibun mimma-ktasabna was-alullaha min fadhlih innallaha kaana bikulli sya’in aliman.” 

Yang artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”

Jika dilihat dari sifat fisiologis dan biologis, perempuan tidak cocok untuk melakukan poliandri, sebab perempuan lah yang melahirkan. Sehingga apabila perempuan melakukan poliandri maka tidak ada yang dapat menghubungkan anaknya jika berada di bawah pembuahan lebih dari satu pemilik sperma. Kemudian, perempuan juga ditahan menstruasi dan pendarahan pascapersalinan dari berhubungan intim selama sebulan penuh.

Kesetaraan antara dua orang yang berbeda berarti ketidakadilan bagi salah satu dari mereka. Sebab seorang wanita yang diciptakan Allah SWT untuk satu rahimnya, dan dia mengandung pada waktu yang sama dan setahun sekali, dan karenanya memiliki satu anak dari satu laki-laki.

Sedangkan untuk laki-laki justru sebaliknya. Mereka boleh memiliki beberapa anak dari beberapa istri miliknya dan dia memikul tanggung jawab membesarkan mereka, menafkahi mereka, mendidik mereka, merawat mereka, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka dan ibu mereka.

Poliandri juga menghalang-halangi seorang wanita untuk melakukan kewajiban istri secara adil dan merata di antara suaminya, baik dalam tugas rumah tangga atau dalam hubungan seksual. 

Terutama karena dia menstruasi selama lima atau tujuh hari setiap bulan, dan jika dia hamil, dia menghabiskan sembilan bulan dalam penderitaan fisik yang menghalangi melakukan kewajibannya terhadap laki-laki yang menikahinya.

Seorang laki-laki siap untuk membuahi setiap saat, dan dengan mengawinkannya dengan beberapa istri, keturunannya akan berlipat ganda. Jadi diperbolehkan baginya untuk memiliki banyak istri, tetapi jika seorang perempuan hamil, menstruasi, atau menyusui, dia belum siap untuk hamil kembali tidak peduli berapa banyak hubungan seksual antara dia dan satu suami lainnya. Sehingga jika diukur secara biologis pun, tak ada sama sekali manfaat apabila perempuan melakukan poliandri.